To Kill a Mockingbird: Opinion
“You never really understand a person until you consider things from his point of view... until you climb into his skin and walk around it.”
Buat yang udah pernah baca novelnya, pasti familiar sama kalimat di atas. Yup! Novel To Kill A Mockingbird karya Harper Lee yang gue maksud. Gue ngga berniat ngeresensi atau nge-review novelnya di postingan ini, gue cuma mau menyampaikan opini gue tentang novel ini.
Kenapa gue tertarik baca novel ini tuh awalnya karena gue lagi muter-muter di Gramedia sama Pippo. Akhirnya sampailah kita ke rak tempat novel-novel best seller dipajang. Waktu itu gue liat ada Critical Eleven, terus banyak lagi lupa novel apa aja dan ketika gue liat To Kill A Mockingbird gue tertarik ambil dan baca sinopsis di belakangnya. Well, gue tertarik betulan setelah baca sinopsisnya, dan berikut garis besar ceritanya:
Novel ini bercerita tentang kehidupan masa kanak-kanak Scout dan Jem, anak dari Atticus Finch, seorang pengacara di suatu kota bernama Maycomb County di negara bagian Alabama. Mereka tinggal bersama seorang pembantu kulit hitam bernama Calpurnia yang berpendidikan. “Petualangan kecil” mereka dimulai ketika seorang keponakan Miss Rachel, tetangga mereka, bernama Dill datang pada liburan musim panas untuk pertama kalinya. Dill, yang Scout anggap anak ajaib karena pemikiran dan ide-ide gilanya, menggagas permainan untuk memancing Boo Radley keluar. Boo Radley adalah putra keluarga Radley yang tidak pernah keluar rumah. Selain itu, rumah keluarga Radley yang disebut Radley Place juga tidak pernah terlihat membuka pintu dan sangat tertutup, sehingga Scout, Jem, dan Dill memiliki gambaran tentang Boo Radley yang menyeramkan dan suka berkeliaran tengah malam untuk mencari tupai atau tikus untuk dimakan mentah-mentah, Jem dan Scout pun selalu berlari jika melewati Radley Place sendirian ketika pulang sekolah. Hidup mereka bergulir seperti itu sampai suatu ketika Atticus ditugaskan untuk membela orang kulit hitam bernama Tom Robinson atas tuduhan memerkosa dan menganiaya Mayella Ewell, orang kulit putih. Scout dan Jem kerap diejek di sekolah dengan ejekan bahwa Atticus adalah seorang “Pecinta Nigger”
Jujur, gue sangat amat terkesan sama cara novel ini menyampaikan pesan moralnya. Melalui sudut pandang seorang anak perempuan yang belum mengerti banyak hal, bisa membuat kita berpikir bahwa terkadang ada sesuatu yang berjalan dengan tidak ideal. Contoh, Tom Robinson tidak berbuat seperti apa yang dituduhkan padanya, namun karena dia orang kulit hitam, maka ia divonis bersalah. Jika direlasikan dengan keadaan sekarang. Hal ini yang kerap kali terjadi dalam praktek hukum di Indonesia, meskipun tidak berdasarkan faktor rasial, melainkan faktor harta dan kekuasaan. Beberapa quotes di dalamnya juga menjadi pertimbangan bagi pemikiran gue yang terkadang konyol ini, di antaranya:
“I wanted you to see what real courage is, instead of getting the idea that courage is a man with a gun in his hand. It’s when you’re licked before you begin, but you begin anyway and see it through no matter what”
Yap! Benar sekali. Apa yang dikatakan keberanian adalah ketika kita berani melawan rasa takut yang ada di dalam diri kita sendiri. Kalo orang tua bilang sih “Jangan kalah sebelum berperang”. Terkadang, rasa takut itu justru muncul dari pikiran-pikiran negatif kita kaya “Duh bisa ngga ya gue menang bersaing sama dia”, “Duh nanti kalo begini gimana”, “Duh nanti kalo gue gagal gimana”. Gue pribadi sebenernya selalu ngalamin hal-hal kaya gitu setiap kali dipercaya orang lain untuk melakukan sesuatu, sehingga quote ini kadang jadi pertimbangan gue buat berpikir positif bahwa gue harus berani.
“As you grow older, you’ll see white men cheat black men every day of your life, but let me tell you something and don’t you forget it—whenever a white man does that to a black man, no matter who he is, how rich he is, or how fine a family he comes from, that white man is trash”
Exactly! Siapapun orangnya, mau dia kaya, mau dia ganteng/cantik, mau dia anak presiden, kalo emang ngga punya manner ya dia ngga lebih dari sekedar sampah masyarakat. Koruptor misalnya yang lagi marak di negara kita sampe bosen tiap hari denger beritanya, mau dia pendidikannya sampe profesor, atau pergi haji seribu kali, kalo dia korupsi ya sama aja dia maling. Dan dari kata-kata “As you grow older,...”, ini jadi pemikiran mendalam buat gue, karena semakin gue beranjak dewasa hal-hal kaya gini terasa semakin nyata dan berputar di sekeliling kita, ngga hanya di institusi pemerintahan aja.
“Mockingbirds don’t do one thing but make music for us to enjoy. They don’t eat up people’s gardens, don’t nest in corncribs, they don’t do one thing but sing their hearts out for us. That’s why it’s a sin to kill a mockingbird.”
Julid. Salah satu hal yang berkembang di kalangan masyarakat kita saat ini, ngga munafik, gue pun termasuk. Mockingbirds disini dapat diartikan sebagai orang lain di sekeliling kita. Sadar ngga sadar, kadang kita sering banget ngejulidin orang lain, padahal itu orang juga ngga ngejahatin kita, ngga punya impact apa-apa ke kita, bahkan mereka juga ngga tau kita ini siapa. Gue juga masih belum bener dalam hal ini, gue juga masih suka julid ke orang lain, padahal mereka bukan artis (ya gue ngga peduli juga sama artis). Tapi dari quote ini, mungkin bisa jadi reminder buat kita untuk ngurang-ngurangin kadar kejulidan.
Selain itu, Atticus jadi idola gue di novel ini. Atticus digambarkan sebagai pekerja yang professional namun tidak melupakan kewajibannya sebagai orang tua. Hal ini digambarkan dengan bagaimana ia selalu pergi bekerja setiap hari, menangani perkara-perkara hukum yang tentu menyita banyak waktunya, namun tetap bisa meluangkan waktu untuk setidaknya mengobrol dan membacakan dongeng sebelum tidur pada anaknya. Atticus juga digambarkan sebagai seseorang dengan pemikiran yang terbuka. Dilihat dari bagaimana ia mengajati Scout membaca sebelum Scout masuk sekolah. Hal ini dianggap tabu, karena pada zaman itu di Alabama, anak-anak hanya diperbolehkan belajar memabaca dan menulis di sekolah.
Satu lagi, Calpurnia. Asisten rumah tangga sekaligus pengasuh kulit hitam di rumah keluarga Finch. Dia digambarkan sebagai salah satu kalangan orang hitam yang terpelajar dan taat beragama. Ia mengajari Scout menulis dan juga pandai memasak. Cal (begitu Jem dan Scout biasa memanggilnya) juga terkadang bisa menjadi sangat ‘galak’ apabila Jem dan Scout tidak menuruti perintahnya. Ada part yang gue suka tentang Cal, dimana dia melindungi Jem dan Scout yang mengunjungi gerejanya namun kemudian mendapat sindiran tajam dari seorang kulit hitam lainnya di gereja. Cal menyindir balik orang tersebut dan bersikap manis pada Jem dan Scout.
Menurut gue, novel ini cocok dibaca kalo kita emang lagi butuh bacaan yang ringan namun isinya berbobot. Ringan maksudnya mudah dicerna dan pemilihan bahasanya ngga terlalu rumit, namun isinya berbobot, maksudnya ada sesuatu yang bisa kita dapat dari novel tersebut, ngga cuma sekedar dapet kesenangan aja kaya kalo baca novel teenlit biasa. Kelemahan dari novel ini menurut gue adalah minimnya bayangan yang tergambar di kepala saat bacanya. Maksudnya gini, kalo gue pribadi, ada beberapa part pas gue baca tuh ngga tergambar di kepala gue gimana suasananya saat itu, karena itu novelnya latarnya di Alabama tahun 1930-an. Tapi kalo emang lo mau ada gambaran pasti kira-kira gimana latarnya saat itu, lo bisa nonton filmya di Youtube karena ada filmnya ternyata yang gue baru tau setelah baca novelnya hehe. Semoga bisa jadi bahan referensi ya!
Buat yang udah pernah baca novelnya, pasti familiar sama kalimat di atas. Yup! Novel To Kill A Mockingbird karya Harper Lee yang gue maksud. Gue ngga berniat ngeresensi atau nge-review novelnya di postingan ini, gue cuma mau menyampaikan opini gue tentang novel ini.
Kenapa gue tertarik baca novel ini tuh awalnya karena gue lagi muter-muter di Gramedia sama Pippo. Akhirnya sampailah kita ke rak tempat novel-novel best seller dipajang. Waktu itu gue liat ada Critical Eleven, terus banyak lagi lupa novel apa aja dan ketika gue liat To Kill A Mockingbird gue tertarik ambil dan baca sinopsis di belakangnya. Well, gue tertarik betulan setelah baca sinopsisnya, dan berikut garis besar ceritanya:
Novel ini bercerita tentang kehidupan masa kanak-kanak Scout dan Jem, anak dari Atticus Finch, seorang pengacara di suatu kota bernama Maycomb County di negara bagian Alabama. Mereka tinggal bersama seorang pembantu kulit hitam bernama Calpurnia yang berpendidikan. “Petualangan kecil” mereka dimulai ketika seorang keponakan Miss Rachel, tetangga mereka, bernama Dill datang pada liburan musim panas untuk pertama kalinya. Dill, yang Scout anggap anak ajaib karena pemikiran dan ide-ide gilanya, menggagas permainan untuk memancing Boo Radley keluar. Boo Radley adalah putra keluarga Radley yang tidak pernah keluar rumah. Selain itu, rumah keluarga Radley yang disebut Radley Place juga tidak pernah terlihat membuka pintu dan sangat tertutup, sehingga Scout, Jem, dan Dill memiliki gambaran tentang Boo Radley yang menyeramkan dan suka berkeliaran tengah malam untuk mencari tupai atau tikus untuk dimakan mentah-mentah, Jem dan Scout pun selalu berlari jika melewati Radley Place sendirian ketika pulang sekolah. Hidup mereka bergulir seperti itu sampai suatu ketika Atticus ditugaskan untuk membela orang kulit hitam bernama Tom Robinson atas tuduhan memerkosa dan menganiaya Mayella Ewell, orang kulit putih. Scout dan Jem kerap diejek di sekolah dengan ejekan bahwa Atticus adalah seorang “Pecinta Nigger”
Jujur, gue sangat amat terkesan sama cara novel ini menyampaikan pesan moralnya. Melalui sudut pandang seorang anak perempuan yang belum mengerti banyak hal, bisa membuat kita berpikir bahwa terkadang ada sesuatu yang berjalan dengan tidak ideal. Contoh, Tom Robinson tidak berbuat seperti apa yang dituduhkan padanya, namun karena dia orang kulit hitam, maka ia divonis bersalah. Jika direlasikan dengan keadaan sekarang. Hal ini yang kerap kali terjadi dalam praktek hukum di Indonesia, meskipun tidak berdasarkan faktor rasial, melainkan faktor harta dan kekuasaan. Beberapa quotes di dalamnya juga menjadi pertimbangan bagi pemikiran gue yang terkadang konyol ini, di antaranya:
“I wanted you to see what real courage is, instead of getting the idea that courage is a man with a gun in his hand. It’s when you’re licked before you begin, but you begin anyway and see it through no matter what”
Yap! Benar sekali. Apa yang dikatakan keberanian adalah ketika kita berani melawan rasa takut yang ada di dalam diri kita sendiri. Kalo orang tua bilang sih “Jangan kalah sebelum berperang”. Terkadang, rasa takut itu justru muncul dari pikiran-pikiran negatif kita kaya “Duh bisa ngga ya gue menang bersaing sama dia”, “Duh nanti kalo begini gimana”, “Duh nanti kalo gue gagal gimana”. Gue pribadi sebenernya selalu ngalamin hal-hal kaya gitu setiap kali dipercaya orang lain untuk melakukan sesuatu, sehingga quote ini kadang jadi pertimbangan gue buat berpikir positif bahwa gue harus berani.
“As you grow older, you’ll see white men cheat black men every day of your life, but let me tell you something and don’t you forget it—whenever a white man does that to a black man, no matter who he is, how rich he is, or how fine a family he comes from, that white man is trash”
Exactly! Siapapun orangnya, mau dia kaya, mau dia ganteng/cantik, mau dia anak presiden, kalo emang ngga punya manner ya dia ngga lebih dari sekedar sampah masyarakat. Koruptor misalnya yang lagi marak di negara kita sampe bosen tiap hari denger beritanya, mau dia pendidikannya sampe profesor, atau pergi haji seribu kali, kalo dia korupsi ya sama aja dia maling. Dan dari kata-kata “As you grow older,...”, ini jadi pemikiran mendalam buat gue, karena semakin gue beranjak dewasa hal-hal kaya gini terasa semakin nyata dan berputar di sekeliling kita, ngga hanya di institusi pemerintahan aja.
“Mockingbirds don’t do one thing but make music for us to enjoy. They don’t eat up people’s gardens, don’t nest in corncribs, they don’t do one thing but sing their hearts out for us. That’s why it’s a sin to kill a mockingbird.”
Julid. Salah satu hal yang berkembang di kalangan masyarakat kita saat ini, ngga munafik, gue pun termasuk. Mockingbirds disini dapat diartikan sebagai orang lain di sekeliling kita. Sadar ngga sadar, kadang kita sering banget ngejulidin orang lain, padahal itu orang juga ngga ngejahatin kita, ngga punya impact apa-apa ke kita, bahkan mereka juga ngga tau kita ini siapa. Gue juga masih belum bener dalam hal ini, gue juga masih suka julid ke orang lain, padahal mereka bukan artis (ya gue ngga peduli juga sama artis). Tapi dari quote ini, mungkin bisa jadi reminder buat kita untuk ngurang-ngurangin kadar kejulidan.
Selain itu, Atticus jadi idola gue di novel ini. Atticus digambarkan sebagai pekerja yang professional namun tidak melupakan kewajibannya sebagai orang tua. Hal ini digambarkan dengan bagaimana ia selalu pergi bekerja setiap hari, menangani perkara-perkara hukum yang tentu menyita banyak waktunya, namun tetap bisa meluangkan waktu untuk setidaknya mengobrol dan membacakan dongeng sebelum tidur pada anaknya. Atticus juga digambarkan sebagai seseorang dengan pemikiran yang terbuka. Dilihat dari bagaimana ia mengajati Scout membaca sebelum Scout masuk sekolah. Hal ini dianggap tabu, karena pada zaman itu di Alabama, anak-anak hanya diperbolehkan belajar memabaca dan menulis di sekolah.
Satu lagi, Calpurnia. Asisten rumah tangga sekaligus pengasuh kulit hitam di rumah keluarga Finch. Dia digambarkan sebagai salah satu kalangan orang hitam yang terpelajar dan taat beragama. Ia mengajari Scout menulis dan juga pandai memasak. Cal (begitu Jem dan Scout biasa memanggilnya) juga terkadang bisa menjadi sangat ‘galak’ apabila Jem dan Scout tidak menuruti perintahnya. Ada part yang gue suka tentang Cal, dimana dia melindungi Jem dan Scout yang mengunjungi gerejanya namun kemudian mendapat sindiran tajam dari seorang kulit hitam lainnya di gereja. Cal menyindir balik orang tersebut dan bersikap manis pada Jem dan Scout.
Menurut gue, novel ini cocok dibaca kalo kita emang lagi butuh bacaan yang ringan namun isinya berbobot. Ringan maksudnya mudah dicerna dan pemilihan bahasanya ngga terlalu rumit, namun isinya berbobot, maksudnya ada sesuatu yang bisa kita dapat dari novel tersebut, ngga cuma sekedar dapet kesenangan aja kaya kalo baca novel teenlit biasa. Kelemahan dari novel ini menurut gue adalah minimnya bayangan yang tergambar di kepala saat bacanya. Maksudnya gini, kalo gue pribadi, ada beberapa part pas gue baca tuh ngga tergambar di kepala gue gimana suasananya saat itu, karena itu novelnya latarnya di Alabama tahun 1930-an. Tapi kalo emang lo mau ada gambaran pasti kira-kira gimana latarnya saat itu, lo bisa nonton filmya di Youtube karena ada filmnya ternyata yang gue baru tau setelah baca novelnya hehe. Semoga bisa jadi bahan referensi ya!
Comments
Post a Comment