Love Related to Christie's Five Little Pigs [Spoiler Alert]
I think I'm silly when I talked about love. Mungkin gue bakal mengutuk diri gue abis-abisan di masa depan karena nulis ini. Gue bahkan belum genap 20 tahun sekarang, bisa dibilang masih 'mentah' buat bicara soal cinta. Tapi, gue boleh aja kan ngutarain pendapat gue tentang cinta? Hehe.
Gue baru aja nyelesaiin baca novelnya Agatha Christie yang Five Little Pigs, dan menurut gue ceritanya ngga se-dark novel Christie pada umumnya.
Secara garis besar, seorang gadis bernama Carla Lemarchant meminta bantuan Poirot untuk membuktikan apakah ibunya (Caroline Crale) benar-benar membunuh ayahnya (Amyas Crale) di masa lalu, tepatnya 16 tahun yang lalu. Poirot setuju untuk membantu.
Untuk membuktikan hal tersebut, Poirot bertemu dengan lima orang saksi yang terkait dengan pembunuhan tersebut. Mereka adalah Philip Blake (sahabat dekat Amyas), Meredith Blake (kakak Philip), Elsa Greer (kekasih gelap Amyas), Angela Warren (adik tiri Caroline), dan Cecilia Williams (guru pengasuh Angela). Dari kelima orang tersebut, di postingan ini gue cuma mau fokus ke Caroline, Amyas, dan Elsa.
Amyas adalah seorang pelukis yang berjiwa bebas dan tidak bisa terkekang. Ia bertemu Elsa di sebuah pesta, kemudian Elsa membujuk Amyas untuk melukisnya. Amyas, lama-lama mulai mencintai Elsa, and vice versa. Caroline yang tau akan hal ini meminta penjelasan dari Amyas. Selang beberapa waktu, Amyas ditemukan meninggal keracunan coniine. Racun coniine itu ditemukan di dalam gelas bir yang baru diberikan Caroline untuk Amyas. Selain itu, di botol coniine juga hanya terdapat sidik jari Caroline.
Caroline akhirnya ditangkap, disidangkan, lalu divonis hukuman penjara seumur hidup, namun baru satu tahun dipenjara, Caroline meninggal. Yang jadi sorotan gue adalah gambaran tentang ekspresi Caroline saat persidangan.
Beberapa saksi melihat Caroline menghadapi persidangan dengan tenang. Ia disana, tapi seolah tidak disana. Seolah hanya raganya yang duduk di kursi terdakwa sedangkan jiwanya pergi entah kemana.
Ketika Poirot berhasil merekonstruksi kejadian-kejadian di masa lalu, terungkap bahwa Elsa Greer lah yang membunuh Amyas, karena ternyata Amyas sudah tidak mencintainya. Yang paling mengesankan adalah ketika Elsa bilang gini:
Dari situ gue jadi bertanya sama diri gue sendiri, "apa gue pernah 'hidup' karena cinta?"
Jawabannya gue temukan dalam jangka waktu yang singkat pas gue mau berangkat ngampus pagi-pagi, ketika nyokap gue udah selesai nyiapin bekal dan bokap gue rutin nganter sampai halte TJ. Jawabannya adalah: "tentu saja pernah, bahkan tanpa cinta dari kedua orang tua gue, gue ngga akan bisa berdiri di atas kaki sendiri".
Beberapa hari setelah itu, gue menemukan jawaban tentang pertanyaan tersebut dalam versi cinta yang lain. I, honestly, often feel alive because of (you know who) my beloved one. Gue ngga bisa terlalu cerita panjang lebar juga soalnya ini privasi, tapi yang bisa gue tekankan dari bentuk cinta yang ini adalah gue bisa ngerasa sangat amat bahagia sampai ngeluarin air mata karena dia, dan gue juga bisa ngerasa sangat amat berdarah sampai ngeluarin air mata juga karena dia. That's how life usually works, happiness and misery come and go, and that's the reason for me to feel alive.
The other version comes from my friends. Tanpa cinta dari temen-temen gue, gue ngga akan bisa ngelewatin semua hal di sekolah maupun di perkuliahan. Gue sebenernya sangat amat buruk dalam mempertahankan pertemanan, tapi setelah lulus sekolah, gue ngerasa ada perkembangan positif dari gue, yaitu gue bisa ngerasain bahwa temen-temen gue emang baik-baik semua. Mungkin karena kita semua udah beranjak dewasa, jadi saling ngerti kalo ada kesulitan atau kesibukan masing-masing. Dan gue senang karena sekarang lingkup pertemanan gue menjadi lebih baik daripada waktu sekolah dulu.
Akhirnya gue juga sampai pada pemikiran "Bagaimana seandainya gue ada di posisi Caroline ketika Elsa akan mengambil 'cinta'nya?"
Dan sampai detik ini, gue masih belum bisa jawab, karena tidak seperti Caroline yang cintanya hanya Amyas, definisi gue atas cinta terbagi tiga seperti yang udah gue ceritain di atas. Tapi kalo lebih spesifik ke partner seperti posisi Amyas, entahlah mungkin gue juga akan 'mati', sama seperti Caroline.
Gue baru aja nyelesaiin baca novelnya Agatha Christie yang Five Little Pigs, dan menurut gue ceritanya ngga se-dark novel Christie pada umumnya.
Secara garis besar, seorang gadis bernama Carla Lemarchant meminta bantuan Poirot untuk membuktikan apakah ibunya (Caroline Crale) benar-benar membunuh ayahnya (Amyas Crale) di masa lalu, tepatnya 16 tahun yang lalu. Poirot setuju untuk membantu.
Untuk membuktikan hal tersebut, Poirot bertemu dengan lima orang saksi yang terkait dengan pembunuhan tersebut. Mereka adalah Philip Blake (sahabat dekat Amyas), Meredith Blake (kakak Philip), Elsa Greer (kekasih gelap Amyas), Angela Warren (adik tiri Caroline), dan Cecilia Williams (guru pengasuh Angela). Dari kelima orang tersebut, di postingan ini gue cuma mau fokus ke Caroline, Amyas, dan Elsa.
Amyas adalah seorang pelukis yang berjiwa bebas dan tidak bisa terkekang. Ia bertemu Elsa di sebuah pesta, kemudian Elsa membujuk Amyas untuk melukisnya. Amyas, lama-lama mulai mencintai Elsa, and vice versa. Caroline yang tau akan hal ini meminta penjelasan dari Amyas. Selang beberapa waktu, Amyas ditemukan meninggal keracunan coniine. Racun coniine itu ditemukan di dalam gelas bir yang baru diberikan Caroline untuk Amyas. Selain itu, di botol coniine juga hanya terdapat sidik jari Caroline.
Caroline akhirnya ditangkap, disidangkan, lalu divonis hukuman penjara seumur hidup, namun baru satu tahun dipenjara, Caroline meninggal. Yang jadi sorotan gue adalah gambaran tentang ekspresi Caroline saat persidangan.
Beberapa saksi melihat Caroline menghadapi persidangan dengan tenang. Ia disana, tapi seolah tidak disana. Seolah hanya raganya yang duduk di kursi terdakwa sedangkan jiwanya pergi entah kemana.
Ketika Poirot berhasil merekonstruksi kejadian-kejadian di masa lalu, terungkap bahwa Elsa Greer lah yang membunuh Amyas, karena ternyata Amyas sudah tidak mencintainya. Yang paling mengesankan adalah ketika Elsa bilang gini:
Yang tidak saya sadari adalah sesungguhnya saya membunuh diri saya sendiri, bukan dia. Sesudah itu saya melihat Caroline terperangkap, namun itu juga tidak membuat saya puas. Saya tidak mampu menyakitinya, ia tidak peduli. Tampaknya ia tidak merasakan semua penderitaan itu. Selama separuh dari persidangan perkaranya, seakan-akan ia tidak berada di situ. Ia dan Amyas telah bebas, mereka telah pergi entah kemana, ke tempat yang tidak mungkin saya datangi. Tetapi mereka tidak mati. Saya yang mati.
Dari situ gue jadi bertanya sama diri gue sendiri, "apa gue pernah 'hidup' karena cinta?"
Jawabannya gue temukan dalam jangka waktu yang singkat pas gue mau berangkat ngampus pagi-pagi, ketika nyokap gue udah selesai nyiapin bekal dan bokap gue rutin nganter sampai halte TJ. Jawabannya adalah: "tentu saja pernah, bahkan tanpa cinta dari kedua orang tua gue, gue ngga akan bisa berdiri di atas kaki sendiri".
Beberapa hari setelah itu, gue menemukan jawaban tentang pertanyaan tersebut dalam versi cinta yang lain. I, honestly, often feel alive because of (you know who) my beloved one. Gue ngga bisa terlalu cerita panjang lebar juga soalnya ini privasi, tapi yang bisa gue tekankan dari bentuk cinta yang ini adalah gue bisa ngerasa sangat amat bahagia sampai ngeluarin air mata karena dia, dan gue juga bisa ngerasa sangat amat berdarah sampai ngeluarin air mata juga karena dia. That's how life usually works, happiness and misery come and go, and that's the reason for me to feel alive.
The other version comes from my friends. Tanpa cinta dari temen-temen gue, gue ngga akan bisa ngelewatin semua hal di sekolah maupun di perkuliahan. Gue sebenernya sangat amat buruk dalam mempertahankan pertemanan, tapi setelah lulus sekolah, gue ngerasa ada perkembangan positif dari gue, yaitu gue bisa ngerasain bahwa temen-temen gue emang baik-baik semua. Mungkin karena kita semua udah beranjak dewasa, jadi saling ngerti kalo ada kesulitan atau kesibukan masing-masing. Dan gue senang karena sekarang lingkup pertemanan gue menjadi lebih baik daripada waktu sekolah dulu.
Akhirnya gue juga sampai pada pemikiran "Bagaimana seandainya gue ada di posisi Caroline ketika Elsa akan mengambil 'cinta'nya?"
Dan sampai detik ini, gue masih belum bisa jawab, karena tidak seperti Caroline yang cintanya hanya Amyas, definisi gue atas cinta terbagi tiga seperti yang udah gue ceritain di atas. Tapi kalo lebih spesifik ke partner seperti posisi Amyas, entahlah mungkin gue juga akan 'mati', sama seperti Caroline.
Comments
Post a Comment